Sejarah Desa Canggu

  • Dibaca: 2012 Pengunjung

SEJARAH DESA CANGGU.

            Didalam mengungkapkan sejarah Desa Canggu,kami mendapatkan suatu kesulitan karena tidak ada data-data tertulis baik berupa lontar maupun berupa prasasti-prasastiyang dapat mengungkapkan nama Desa itu sendiri. Demikian pula menurut informasi yang kami peroleh dari beberapa warga yang kami anggap mengetahui dalam hal itu, belum juga dapat memberikan penjelasan bagaimana sejarah terjadinya Desa Canggu tersebut.oleh karena itu untuk mendapatkan gambaran tentang nama Desa Canggukami mencoba membandingkan dengan semua nama Desa  “ Canggu “ yang terdapat didaerah Kerajaan Majapahit yaitu merupakan pelabuhan Kerajaan Majapahit yang terletak di muara Kalibrantas. Hal ini terjadi karena apabila kita mencoba membandingkan tentang masalah nama Desa ataupun seperti Kecamatan dan sebagainya, maka banyak sekali terjadi nama-nama yang sama di Bali dengan di Jawa terutama di jaman Majapahit dan lain-lain misalnya : Kerajaan Kediri, di bali juga terdapat nama Kediri di Tabanan, nama Gerobogan di Jawa di Bali juga terdapat Gerobogan di Kecamatan Kuta.di Jawa terdapat nama Banten maka pada jaman Resi Markandika sekitar abad V dan VI sebelum pulau ini bernama Bali terlebih dahulu diberi nama Banten karena pengertian banten sama dengan Bali. Oleh karena itu orang yang menjalankan banten di Bali kadang-kadang disebut Balian.

            Demikian beberapa contoh tentang nama-nama Desa yang mempunyai persamaan antara Jawa dengan Bali. Karena disadari pula perkembangan Agama Hindu di Bali masih berlangsung sekitar abad XIV yaitu pada jaman Majapahit dengan kedatangan maha resi- maha resi seperti Danghyang Dwijendra / Nirartha dengan konsep Padmasananya. Danghyang Astapaka dengan ajaran Budhanya, Empu Kuturan dengan konsepsi Kahyangan tiganya. Oleh karena itu kami mempunyai anggapan bahwa nama Desa Canggu ini kemudian ada hubungan dengan nama Canggu yang kami sebutkan diatas dalam hal ini kami mencoba menghungkan dengan babad dalem Samprangan dimana setelah keturunan Raja Bali ketiga yaitu Dalem Ketut Ngelesir dengan pusat Kerajaan di Gelgel yang selanjutnya setelah dihabiskan Raja bergelar Sri Semara Kepakisan. Raja-raja Bali saat itu di undang ke Majapahit yang pada waktu itu diperintah oleh Hayamwuruk dengan patihnya Gajahmada dan Raja bali mengutus patihnya bernama Kyai Petandakan. Pada Saat patih ini kembali ke Bali diberi sebilah keris sebagai jimat untuk mempertahankan Bali, tat kala Kyai Petandakan naik perahu di Bengawan Canggu ( Pelabuhan Kerajaan Majapahit ) ,  maka diceritakan bahwa kerisnya jatuh kedalam air sedangkan urangkanya (sarungnya) masih dipegang beberapa saat kemudian dengan kekuatan puja mantreanya dari Kyai Petandakan, anak keris itu kembali dengan sendirinya masuk kedalam sarungnya, sehingga dengan demikian keris itu diberinama Begawan Canggu. Setelah tiba di Bali beliau menuju dalem Gelgel dan ditempat inilah beliau beristirahat dengan membawa keris tadi.sehingga Desa/Daerah ini diberi nama “ Canggu “. Secara keyakinan agama Hindu oleh karena nama Canggu ini diberi oleh seorang patih yang memiliki kesucian bathin, maka nama itu memiliki kekuatan tersendiri sebagai suatu wilayah. Hal ini selanjutnya dapat dibuktikan dengan kedatangan Resi dari Majapahit sekitar abad XIV yang bernama Pedanda Sakti wawu rauh / Danghyang Dwijendra / Nirartha dalam perjalananya menuju Dalem waturenggong ( Gianyar ) sempat singgah di Canggu yaitu Pantai Batu Bolong, dimana selanjutnya dipantai ini atas kekuatan Yoganya timbul tirta Empul. Hal ini diuraikan dalam lontar Pedanda sakti wawu rauh sebagai berikut :

            . . . . . . . . . tilar ring nyitdah, munggah ring samudra , sepenegaknya turun ring Canggu, kepernah putra apratistha pada, during ngasat Babelanguangen wewecana, malih sungkan magerah, raris mekarya tirta empul sapteng tiri, malih kenak . . . . . . . . . .

            Arinya :

            . . . . . . . . . . . telah meninggalkan Desa Nyitdah melalui lautan, secepatnya tiba di Canggu. Lalu menampak seorang Brahmana ( mediksa ) yang mana belum sepakat didalam pembicaraan lagi sakit merah ( panas dingin ), lalu membuat tirta empul 7 buah, dan selanjutnya beliau sembuh kembali.

            Didalam prasasti yang terdapat dipura Batur disebutkan bahwa tirta Empul ring Batu Bolong pesucian Bhatara ring Batur.

Jadi apabila kita renungkan maka kejadian yang terjadi didaerah ini sehingga adanya nama Canggu dan tirta Empul di Batu Bolong mempunyai sangkut paut dengan orang-orang Majapahit terutama patih Kyai petandakan dan Danghyang Dwijendra yang ternyata mempunyai pengaruh besar di Bali terutama dalam agama Hindu dengan konsepsi padmasana dan merupakan nabenya para pendeta / pedanda di Bali.

            Selanjutnya Desa Canggu yang terdiri dari 2 Desa yaitu Desa Tibubeneng yang di kepalai oleh AA Gede Raka Mandri darai banjar tibubeneng dan I Made Pursa dari banjar Tegal Gundul, dan Perbekelan Canggu yang di kepalai oleh seorang Perbekel I Ketu Sana dari tahun 1939 – 1950 yang pernah menjabat sebagai kepala desa Canggu antara Lain :

  1. Tahun 1958 – 1974 yang memerintah adalah I Nyoman Pegig
  2. Pada masa pemerintahan beliau terjadi penggabungan 2 Desa yaitu Desa Canggu dan Desa Tibubeneng dengan nama DESA CANGGU pada tanggal 10 Oktober 1958
  3. Pembangunan yang menonjol pada masa pemerintahan beliau berhasil membangun kantor kepala desa ( lokasi di banjar pipitan ).
  4. Meletusnya peristiwa G30S/PKI tahun 1965 diana keadaan masyarakat pada saat itu dalam keadaan aman dan tetap bersatu.
  5. Tingkat perkembangan Desa pada akhir pemerintahanya adalah mencapai skor atau Desa.
  6. Tahun 1974 sampai dengan tahun 1984 yang memerintah adalah I Wayan Jegriyasa.
  7. Pada masa pemerintahanya dibidang pembangunan melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh pejabat sebelumnya dan pembangunan yang menonjol pada saat pemerintahan beliau sudah mulai dirasakan oleh masyarakat seperti pembangunan Balai Desa. Sekolah-sekolah inpres , koperasi dan lain- lain.
  8. Tingkat perkembangan Desa Canggu pada akhir tahun 1984 sudah mencapai tingkat perkembangan Desa Swakarya, dengan skor 13.
  9. Tahun 1984 sampai dengan 1992 di perintah oleh Nyoman Kurdana.
  10. Pada saat pemerintahanya , beliau melanjutkan usaha-usaha pembangunan yang telah direncanakan oleh pejabat terdahulu serta lebih meningkatkanya lagi.
  11. Pembangunan yang menonjol dalam masa pemerintahanya :
  12. Melanjutkan / menyelesaikan gedung Balai Desa Canggu.
  13. Membangun Kantor Desa sekaligus pembelian tanah bangunan seluas lima are.
  14. Membangun jalan aspal Swadaya di Banjar Padang Linjong sepanjang 50 meter, Banjar Aseman Kangin sepanjang 800 meter.
  15. Pembuatan awig-awig Desa Adat di empat Desa Adat di Desa Canggu.
  16. Pendirian dua LPD yaitu LPD Desa Adat Canggu dan LPD Desa Adat Padonan.
  17. Pernah meraih juara Lomba Desa , Juara I Lomba Desa tingkat Kabupaten Badung dan juara III Lomba Desa Adat Tingkat Kabupaten Badung dan lain-lain.
  18. Tingkat perkembangan Desa Canggu Tahun 1992 /1993 sudah mencapai Desa Swasembada dengan skor 147.
  19. Bulan mei 1993 diperintah oleh I Nengah Sudarsana sampai dengan 2001
  20. Drs I Putu Eka Merthawan
  21. Tanggal 19 februari 2001 sampai dengan bulan januari 2009 dijabat oleh I Wayan Martana, Sos.
  22. Tanggal 21 Jnuari 2009 sampai dengan 2015 I Nyoman Mustiada.
  23. Bulan maret 2015 sampai dengan 2016 dijabat oleh I Nengah Rendo.
  24. Tanggal 16 mei 2016 sampai sampai sekarang dijabat oleh I Nengah Lana, SH.

 

Desa Canggu mempunyai Desa Adat yang dikepalai oleh :

  1. I Made Morda
  2. Drs. I Wayan Gina
  3. I Ketut Mudra
  4. Drs. I wayan Suamba, M. Pd. H
  5. Drs. I Nyoman Sujapa, S.Pd, M. Pd. H.

Demikianlah sejarah tentang terjadinya nama “ Desa Canggu “yang mempunyai kaitan dan persamaan dengan nama Bengawan Canggu di kali Brantas Pelabuhan Kerajaan Majapahit sekitar abad XIV di Jawa Timur.  

 

                                                                                                Canggu 4 Desember 2017

                                                                                                PERBEKEL CANGGU

 

 

                                                                                                I NENGAH LANA. SH

  • Dibaca: 2012 Pengunjung